2026-04-19 - 05. MANASIK HAJI 1447H

Muhajir Project Safar6,890 words

Full Transcript

Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahiabbil alamin. umur dunya waddin wasalatu wasalamu ala asrofili iya wal mursalin waa alihi wasohbihi ajmain allahumma inna nas'aluka ilman nafiah wa naud nazubika min ilmi la yfa allahumma alimna ma yfaunafna bima alamtana allahumma aslih lana umurana kullaha wa aslih umurina unsurna wa mustadin wa madlum innaka waliika qqir alaih. Alhamdulillah kita panjatkan puji dan syukur kita kepada Allah tabaraka wa taala atas segala nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada kita. Sebagaimana selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulillah alaihialatu wasalam beserta para keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang istikamah berjalan di bawah naungan sunah beliau sampai hari kiamat kelak. Kita meminta kepada Allah dengan nama-nama yang husna dan sifat-sifat yang maha mulia, Allah tabaraka wa taala memberikan kita ilmu nafi dan menjauhkan kita dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ah. Ee hadirin yang Allah muliakan, Ibnu Khaldun rahimahullahu taala menceritakan sebuah kisah sebelum terjadi perang Qadisiyah. Pada saat itu Saad bin Abi Waqqas seorang sahabat besar, salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga itu mengutus utusan beliau untuk bertemu dengan pemimpin Persia yang bernama Yasjraj yang ketiga. alis atau ketiga sebelum ee terjadi peperangan Al-Qadisiyah. Sebagaimana kita tahu, Al-Qadisiyah adalah peperangan antara umat Islam dengan Persia. Begitu utusan datang ke Yas Dajraj tiga, utusan-utusan Sa'ad bin Abi Waqqas itu disikapi dengan tidak baik. Bahkan dia mengatakan sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Khaldun, lau qotala ahadur rusula qobli laqotaltuk. Kalau dalam sejarah ada pemimpin Persia yang membunuh utusan musuh, maka hari ini saya akan bunuh kalian. Kalimat yang disampaikan yasadraj dengan pongah dan arogan. Kalau Anda pendahulu yang membunuh utusan, saya akan bunuh kalian. sangat arogan, sangat sombong dan memang Persia pada saat itu kekuatan besar, kekuatan yang sangat besar bersama Romawi, Romawi Timur pada saat itu. Karena Romawi Barat sudah kolabs sebelumnya. Tapi enggak ada yang membunuh utusan kata beliau. Jadi saya enggak bisa bunuh kalian. Tummastadaa biwiqri min turabin humila ala aomihim. Lalu yes the great mengatakan kepada stafnya, tolong ambilkan satu karung tanah. Saya akan letakkan di pundak orang yang paling mulia di antara mereka sambil menunjuk Pak utusan-utusan Saad bin Abi Waqqas. Ya, tolong ambilin tanah. Satu karung tanah saya mau taruh di pundak pemimpin utusan-utusan atau orang yang paling terhormat dari mereka. Lalu belia dia mengatakan, "Irjiu ila shohibikum." Kembalilah ke pemimpin kalian. Waimuhum anni mursilun rustum hatta yadfinakum ajmain fi khandaqil qadisiyah. Sampaikan bahwa aku akan mengirim rustum. Rustum itu panglima legendarisnya Persia yang sangat jago. Saya akan mengirim Rustum untuk membunuh dan mengubur kalian di Parit Qadisiyah di Parit Qadisiah. sangat arogan pulang bilang di perang nanti yang saya tunjuk sebagai panglima adalah Rustum dan tujuan saya memilih dia, saya ingin bunuh kalian semua. Jadi saya enggak mau menang perang semata. Saya ingin mengubur kalian. Jadi target saya bukan memenangkan pertempuran semata. Target saya adalah membunuh semua kalian. Sesakan kubur di lokasi peperangan. tumma yudawwija biladakum aom min tadwiji sabur lalu saya akan hancurkan negeri kalian dengan cara yang lebih parah daripada yang kita lakukan di sabur sebelumnya apa Terjadi faqama Asim bin Umar. Maka Asim anak Umar radhiallahu taala anhuma itu langsung berdiri. Langsung berdiri. Bayangkan coba hadirin. Menjadi salah satu utusan Saad bin Abi Waqqas lalu masuk ke berhadapan dengan Raja Persia di apa? di di tengah-tengah kekuasaannya dan Persia Romawi itu seperti hari ini Amerika Cina jemaah. Nah, antum pilih deh mau ketemu Pak Donald atau Pak Sijin Ping. Nah, itu kira-kira. Nah, itu dan benar-benar direndahkan. Faqama Asim bin Umar. Lalu Asim bin Umar berdiri dan beliau mengatakan, "Ana asyrafa haula." Jadi Asim bin Umar berdiri lalu langsung mengambil karung tanah tersebut lalu beliau pikul di pundaknya. Saksaya mengatakan, "Saya yang paling terhormat di antara semuanya. Saya saya yang paling tinggi." Bukan kesombongan tapi mengambil tanggung jawab. Karena mereka sendiri enggak tahu apakah bisa keluar hidup-hidup tidak. dia berhadapan mereka ber dengan raja yang sangat sombong, sangat arogan, sangat pongan, dan punya power. Dan permintaan raja tersebut adalah saya mau taruh di pundak orang yang paling tinggi di antara kalian. Maka pada saat itu yang paling tinggi adalah Asim bin Umar. Dan beliau tidak mundur, beliau tidak ngumpat, beliau enggak nyenggol, lu aja yang bilang ya gitu. Enggak, gua enggak mau ikut-ikutan ini ngeri, Bro. Enggak. Belum berdiri saya. Yang Anda maksud itu saya. Dan tanpa diminta beliau langsung ambil ee tanah tersebut. Bukan karena senang dihina, enggak. Tapi enggak ada opsi lain. Dia berhadapan dengan super power dunia. Akhirnya pulanglah utusan Asim bin Umar dengan kondisi seperti itu. Dan mereka langsung pulang menghadap Saad bin Abi Waqqas. pulang menghadap Saad bin Abi Waqqas. Hadirin, kalau antum jadi Saad bin Waqqas, apa komentar antum? Utusan antum dihina dan secara power jelas-jelas kalah. Secara banyaknya pasukan jelas-jelas kalah. Kata Saad bin Abi Waqqas, "Absyir faqad a'anallahu turaba ardhihim." Kata Saad bin Waqqas, "Bergembiralah. Allah telah berikan kita tanah kelahiran mereka. tanah dari negeri mereka. Ini awal kita mengalahkan mereka. Mereka sendiri yang serahkan tanah mereka. Dan singkat cerita, peperangan besar itu enggak bisa dielakkan terjadi di daerah dekat Kufah atau Irak sekarang yang bernama Qadisiyah. Umat Islam dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqas dan Persia didukung ee dipimpin oleh Rustum. Dan pertempuran terjadi di tahun ke-14 Hijriah di era Umar bin Khattab radhiallahu taala anh dan Persia didukung kekuatan yang sangat besar dan kuat. Mereka punya senjata berat yang komplit dan sejarah mencatat mereka punya pasukan gajah yang fungsinya untuk menghadapi kuda-kuda orang Arab. Dan masalahnya Alqondisya enggak ada burung ababil enggak ada. Dan sejarah mencatat perang berlangsung selama 3 sampai 4 hari. Dan hari pertama dan kedua umat Islam sangat tertekan dan sempat terpukul khususnya pasukan gajahnya Persia dan barisan kacau dan korban banyak berguguran. Namun di hari ketiga Allah memberikan taufik, Saad bin Waqqas dan Umar mulai menemukan strategi. Mereka menyerang mata gajah lalu memutus kendali pasukan Persia. Dan hari keempat Rustum berhasil dibunuh dan pasukan Persia runtuh dan melarikan diri. Dan kemenangan itu bukan hanya tentang kemenangan perang. Tapi Persia kalah total dan jalan menuju ibu kota Persia yaitu Madain itu terbuka. Dan itulah catatan sejarah tentang runtuhnya peradaban Persia dan awal runtuhnya Kekaisaran Sasaniah. Itu bukan ee kemenangan perang biasa, tapi itu runtuhnya peradaban besar dunia. Dan lahirlah kekuatan baru, yaitu kekuatan Islam. Dan dari situlah kita tahu kenapa orang Persia dendam sekali dengan Umar bin Khattab radhiallahu taala anhu. Karena Persia dihancurkan oleh Saad di masa Umar bin Khattab. Jemaah yang Allah muliakan, Nabi sallallahu alaihi wasallam yang mengatakan bahwa haji itu jihad lafi tapi enggak ada kontak senjata. Tapi Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan haji itu jihad. Maka kalau jemaah ingin mendapatkan haj yang mabrur, maka mentalitas, kerangka berpikir, sudut pandang itu harus seperti mujahid. Dan kisah singkat di atas menunjukkan bagaimana salah satu mentalitas dan kerangka berpikir dari orang-orang yang berjihad dan tidak tanggung-tanggung diperlihatkan oleh Saad bin Abi Waqqas ketika beliau dan pasukan diremehkan. kan direndahkan, dihina. Raja Persia menyuruh agar utusan yang paling mulia memikul tanah dari Persia. Respon Saad bin Waqqas bukan marah, bukan tertekan, bukan tersinggung, bukan pesimis. Walaupun yang melakukan itu adalah kekuatan terbesar dunia, tapi justru pola pikir Saad bin Waqqas adalah optimis, absyir, bergembiralah. Qad aallahu ard turaba ardihim. Allah telah memberikan kita tanah kelahiran mereka. ini adalah awal dari kemenangan dan ini bukan retorika. Ini optimisme yang dibangun di atas iman. Walaupun dalam kondisi yang tidak ideal, dalam kondisi yang tidak menguntungkan, walaupun dalam kondisi menghadapi musuh yang sangat besar dan peluang menang itu kecil karena Persia adalah super power pada saat itu dan umat Islam lebih sedikit. lebih sedikit. Lihat bagaimana mujahid itu melihat kondisi orang biasa melihat ini adalah penghinaan, ini adalah ancaman, ini adalah show of force. Dan memang Persia punya kapasitas untuk itu. Tapi Mujahid atau Saad bin Naqqas melihat sebaliknya. Bukannya tertekan, bukannya pesimis, bukannya minder, tapi beliau melihat ini adalah kemenangan dan awal dari kemenangan. Dan ini pelajaran bagi kita bahwa kemenangan sering dimulai dari cara kita memaknai sebuah kondisi dan cara kita melihat sebuah masalah. Dan kerangka berpiran dan kondusi yang kondisi yang tidak kondusif. Dan ini yang kita butuhkan di musim haji tahun ini. Lihat bagaimana mindset para sahabat. Alih-ali, takut, gentar, minder, dan pesimis. Mereka justru semangat. Dan di dalam riwayat di atas, Saad bin Waqqas enggak enggak enggak bicara panjang lebar. Absyir, bergembiralah. Lu enggak nanya Asim? Gimana perasaan kamu Sim? Sabar ya Sim ya. Emang begitu Persia ya? Emang orang-orang ahli dunia itu aroat? Nakak. Beliau enggak masuk drama. Beliau hanya bicara simpel. Absyir Allah kasih tanah mereka ke kita. Kita akan rebut Persia. Hadirin Allah muliakan. Jadi ketika orang biasa melihat ini adalah penghinaan, maka saat melihat bahwa ini adalah penyerahan tanah secara simbolis sebelum kita benar-benar mengalahkan mereka. Dan itu cara Allah meruntuhkan musuhnya. Hadirin yang Allah muliakan. Saad bin Abi Waqqas, beliau mengajak kita untuk tidak melihat jumlah pasukan pada saat itu. Beliau tidak melihat siapa panglima yang akan memimpin di Qodisiyah. Tapi beliau mengajak kita untuk melihat arah sejarah dan janji Allah tabaraka wa taala dalam Al-Qur'an dan sunah Rasulillah alaihi salalatu wasalam. Ini bukan hanya sekedar menyandarkan diri kepada Allah lalu clules. Enggak. ini kemampuan dalam membaca dan melakukan ikhtiar dan usaha. Karena kita tahu bersama-sama pasukan yang dipengin Saad bin Abi Waqqas pada saat itu berada di level keimanan yang tinggi. Walaupun mereka kalah dalam jumlah pasukan. Tapi mereka kuat dari segi iman dan ketakwaan dan mereka solid dari segi skill. Di sisi lain, musuh memang kuat dan merupakan negara super power pada saat itu, tapi sedikit spill kondisi mereka pada saat itu. mereka punya konflik internal dan di era tersebut terjadi perubahan kepemimpinan yang cukup cepat di Persia. Dan yang paling terakhir ketika raja mereka melakukan itu, maka itu adalah simbol dari arogansi, kesombongan dan meremehkan musuh. Sebagai orang yang berpengalaman dalam kehidupan secara umum dan jihad secara khusus, Saad bin Waqas ngerti begitu ada pihak yang meremehkan musuhnya maka itu adalah kelemahan besar yang harus dimanfaatkan. Jadi ini bukan hanya sekedar optimis lalu tanpa kecerdasan dan tanpa kemampuan membaca arah. Ini tentang bersatunya keimanan, ketakwaan, keberanian, pengalaman, ilmu, dan jam terbang dalam lapangan. Sehingga Saad bin Waqas mengatakan demikian. Oleh karena itu, jemaah yang Allah muliakan, kalau kita bicara realita musim haji 1447 Hijriah, saya ingin menyampaikan bahwa kalau setiap kita ingin berhasil, Nabi sallallahu alaihi wasallam, Nabi hadirin yang mengatakan jihadun laitala fi. Ibadah haja adalah jihad tanpa ada peperangan. Tapi filosofi, makna, kerangka berpikir, dan konsep itu jihad. Maka kalau jemaah ingin berhasil, maka prinsip-prinsip mujahid itu harus ada di dalam diri jemaah. Terlepas jemaah berangkat atau tidak. Karena kalaupun berangkat tapi mentalitas kita bukan mentalitas pejuang, bukan mentalitas mujahid, maka kita akan mati di medan tempur dalam tanda kutip mati konyol. Bukan mati syahid, tapi mati konyol. Kita akan gagal. Kita akan gagal di Mina, kita akan gagal di Arafah, kita akan gagal di Muzdalifah, kita akan gagal di Mina, kita akan gagal di Masjidil Haram. Kenapa? Karena mentalitas kita bukan mentalitas orang yang turun dalam jihad. Mentalitas bosi, princess, terus manja, lalu panikan, overthinking, lupa sama ayat, lupa sama janji Allah Subhanahu wa taala. Orang sepertinya enggak akan pernah berhasil dalam dunia perjuangan. Jadi hanya buang-buang uang saja, buang-buang energi saja dan buang-buang waktu saja. Maka berpikirlah seperti itu. Lihat Saad bin Abi Waqqas kondisi yang tidak kondusif plus dihina, direndahkan, dan ditakut-takuti dengan tanah dan dengan pesan bahwa yang saya akan utus adalah rustum. itu enggak membuat mereka mundur. Lalu mungkinkah dinamika visa pada musim haji tahun ini pantas untuk membuat antum pesimis? Ya, kalau antum bukan mujahid. Tapi kalau antum kalau hadirin sekalian punya mental itu, ini enggak ada apa-apanya. Bahkan saya sampaikan di pertemuan awal peta real tahun ini lebih baik daripada tahun lalu. Karena clear visa ada tahun ini. Tahun lalu di tanggal segini enggak ada visa sama sekali. Cuman optimisme tanpa bukti. optimisme tanpa eviden. Optimisme enggak ada eviden, tapi kita punya pola karena pola ee visa non kuota itu akan keluar di akhir Zulqadah. Tapi siapa yang bisa buktikan? Enggak ada. Hari ini bukti clear bisaada dan dinamika sudah mulai di hari-hari ini. Jadi kalau menghadapi kondisi seperti ini, kita panik, kita pesimis, kita apa namanya? lesu kita enggak semangat berdoa, enggak semangat sujud, enggak sebanyak minta, enggak semangat ngerengek sama Allah, maka kita bukan orang yang pantas masuk ke dunia jihad. Yang dikatakan Nabi sallallahu alaihi wasallam, al haji itu jihadun la kita la fih. Justru saya semakin semangat. Semakin semangat. semakin optimis. Sekecil apapun peluang, seterdesak apapun dunia jihad itu tidak menyisakan tempat pada pesimisme. Enggak ada hadirin yang Allah muliakan. ketika kondisi di perang Uhud sedang berat-beratnya nya ketika umat terdesak sebelumnya menang, kita tahu ada sosok yang telah tetap melangkahkan kaki beliau untuk maju ke jantung pertempuran. Dan sosok itu adalah Anas bin Nadar. Logika berpikir kalau kondisi separah itu harusnya insting manusia akan mundur tapi beliau justru maju. Begitu beliau maju dan masuk ke jantung, akan masuk ke jantung pertempuran, beliau bertemu dengan tokoh besar di Uhud, Saad bin Muad. Saad bin Muad. Lalu Saad bin Umad memberi memberikan peringatan, "Hati-hati, jangan maju, jangan masuk, Anda bisa mati." Apa kata Anas bin Nadar? Beliau menyampaikan, "Inni ajidu rihaludi duna Uhud." Saya mencium aroma surga dari balik bukit Uhud. Lalu beliau masuk dan beberapa waktu kemudian beliau wafat syahid dan beliau ditemukan oleh saudari kandungnya Rubay binti Nadar. Karena tidak ada yang bisa mengenai beliau kecuali saudarinya tersebut. Disebabkan sekujur tubuh beliau kurang lebih ada 80-an tusukan. Tusukan, sambitan dan goresan 80-an tusukan sampai enggak dikenali. sampai enggak dikenali Anas bin Nadar. Hadirin yang Allah muliakan, itulah mentalitas pejuang. Bahkan sampai peluang mendekati 0% bukannya mundur maju. Bukannya mundur lalu sok-sok berpikir realistis enggak maju. Kenapa? Karena kalau kita bicara jihad dan haji adalah jihad, maka tidak ada istilah winl atau luzl. Enggak ada. Semua win-win. Anda berhasil, Anda menang, Anda terbunuh, Anda syahid. Enggak ada istilah gagal. Sama kayak haji. Sekecil apapun peluang, maju. Maju dengan doa kita, maju dengan ilha kita, reng kita. Maju dengan air mata kita, maju dengan optimisme kita. Allah kasih kesempatan kita berkiprah di sana dan menang. Allah enggak kasih ini, dapat pahala haji. Enggak ada enggak ada ruginya. Lalu kita akan coba tahun depan lagi, berjuang lagi, coba tahun depan lagi. Makanya ketika Allah berbicara tentang laki-laki dan konteks bicara laki-laki di sini bukan bukan laki-laki sebagai gender, tapi sifat kesatria yang dimiliki oleh laki-laki dan bisa dimiliki oleh wanita. Dan konteks ayat ini tentang jihad. Apa kata Allah dalam surat Alazzab ayat 23? minal mukminin rijalun shodqu ma ahadullaha alaih faminhum manq nahbah waminhum man yantadir w baddalu tabdila. Ini mentalitas pejuang di antara orang-orang beriman ada rijal. Rijal tuh laki-laki. Tapi lagi-lagi maksud laki-laki di sini tuh bukan gender. Ini kalau ini bahasanya kayak kayak kita anak apa bahasa lapangan kita nih lu cowok gitu. Cowok enggak boleh begitu. Apakah wanita enggak boleh punya sifat itu? Boleh bahkan terpuji. Tapi laki-laki harus menjadi pionir dan harus berada di saf terter depan dalam sifat ini. Kita biasa sebutkan sifat kesatria. Ada banyak wanita punya sifat kesatria, tapi sebelum wanita seharusnya laki-laki yang berada di saftar depan. Makanya Allah menggunakan bahasa rijal. Karena sifat-sifat ini harusnya dimiliki laki-laki sebelum perempuan. Kalau enggak, kalau bahasa kita, lu pakai rok aja. Kalau bahasa kita. Kalau pakai bahasa aktivis 98 dikirimin hadiah isinya underwear perempuan. Siapa aktivis 98 di sini? Ya kan gitu. Beneran enggak? Enggak enggak ikut ya. 98 berarti mana? Orda barunya bukan 8 kan gitu enggak tampil dikirimin paket dari BEM lain isi paketnya apa? Underware perempuan. Lu jadi cewek aja kira-kira itu loh. Minal mukminin rijal kata Allah. Di antara orang-orang ada rijal, ada cowok nih, ada laki-laki. Shadaqu ma ahadullaha alaih. Mereka jujur ketika berjanji kepada Allah. Kalau konteks kita, mereka jujur ketika mengatakan, "Ya Allah, saya ingin haji." Jujur mereka. Karena ayat ini tentang Anas bin Nadr. Kenapa demikian? Karena Anas bin Nadar sebelum perang Uhud beliau pernah berjanji sama Allah Subhanahu wa taala. Beliau pernah berjanji dengan Allah Subhanahu dengan Allah subhanahu wa taala. Apa janjinya? Simpel aja. Kata beliau, lain aranillahu masyhadan fima ba'da ma eh fima ba'du maa rasulillah sallallahu alaihi wasallam. Sekilas info Anas bin Nadar tidak ikut perang Badar kalau enggak salah. Beliau enggak ikut perang Badar. Lalu beliau berjanji, "Kalau Allah kasih kesempatan saya ikut perang bersama Nabi sallallahu alaihi wasallam, ikut jihad dengan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Layarannallahu ma asna." Maka saya berjanji Allah akan melihat apa yang akan saya lakukan. Titik gitu aja. Cowok banget ya. Chow tuh enggak bicara asap apa enggak. Kalau Allah kasih kesempatan, saya garansi Allah akan lihat apa yang akan saya lakukan. Titik. Enggak. Cowok kan enggak banyak bicara. Cowok kan enggak ngobrol janji. Tapi man got to do. What man got to do? Beliau hanya mengatakan, "Allah akan lihat apa yang akan saya lakukan." Dan terbukti yang harusnya orang mundur beliau maju dan 80 tusukan. 80 tusukan. Maka Allah, maka ayat ini berkaitan dengan beliau. Ada laki-laki yang jujur ketika berjanji dengan Allah. Faminhum manqod nahba. Dan di antara mereka yang berjanji itu, berjanji untuk berjuang, berkorban dan mempertaruhkan apapun. Sebagian mereka ada yang telah membuktikan janjinya dan wafat husnul khatimah. Itu ee qada nahbah. Mereka wafat dalam kondisi membuktikan janji mereka. Mereka bukan omdok, mereka bukan ABS, mereka bukan penjilat. Mereka buktikan apa yang mereka ucapkan dan mereka wafat dengan torehan prestasi itu. Waminhum man yantadir. Dan sebagian mereka belum dikasih kesempatan maka mereka akan menunggu sampai kapan? Sampai mati. Kapan giliran saya? Wama baddalu tabdila. Mereka enggak akan berubah. sama sekali enggak akan merubah itu. Mereka enggak akan merubah apa yang mereka sudah janjikan. Enggak akan. Oh, aku revisi. Enggak ada revisi. Jadi, kalau kita bicara jihad dalam konteks ini, haji, ketika kita sudah berjanji kepada Allah, saya ingin haji, ya Allah. Maka kita akan berjuang. Ketika Allah kasih kesempatan kita hari ini, tahun ini, kita akan totalitas di sana dan kita berjanji akan tutup dengan husnul khatimah dan enggak macam-macam. Saya seperti Anas bin Nadar, saya akan Allah akan lihat apa yang akan saya lakukan. 80 tusukan. Kalau la qadarullah ada ada pihak atau ada jemaah ternyata tidak berangkat tahun ini, maka dia masuk ke bagian kedua. Waminhum man yantadir. Saya akan tunggu tahun depan. Tahun depan enggak. Saya akan tunggu 2 tahun lagi. Enggak juga 3 tahun lagi. Enggak putur, enggak terpuruk, enggak kayaknya gua masih trauma nih. Ah, enggak ada. Enggak ada. itu bukan bukan kesatria kalau enggak kasih wama baddalu tabdila enggak dirubah sama sekali enggak kalau saya karena saya sudah janji haji saya akan haji bidnillah itu poin itu baru jihad bukan semboyan kosong bukan lip makanya enggak ada trauma di sini. Aduh, gua gua deg-degan gua trauma tahun lalu. K ini jihad. Allah enggak kasih kita tahun lalu, tahun ini kita habis-habisan. Tahun ini enggak dapat, tahun depan kita habis-habisan. tahun depan sampai Allah takdirkan kita itu Anas bin Nadar enggak ada kehilangan optimisme enggak ada semangat gitu. Makanya kan hadis kemarin, tamanna ahadukum falyukir. Apabila Anda memiliki cita-cita yang sangat sulit digapai, yang sangat sulit diraih, Anda punya mimpi yang sangat berat untuk direalisasikan, Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, "Falyukir, perbanyak." Bukan lu tahu diri deh. Enggak bilang gitu Nabi sallallahu alaihi wasallam ya dikit aja kan susah. Masa memang banyak falyukir perbanyak. Lalu doanya banyakin. Falyudzim sual. Habis-habisan doa, habis-habisan berjuang. Karena sesungguhnya dia meminta kepada Rabbnya. Dia meminta kepada pencipta alam semesta. Apa yang susah bagi Allah tabaraka wa taala? Lihat bagaimana mentalitas yang dididik oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Anda jangan mundur, maju terus. Apalagi ketika hari-hari ini kita mulai lagi baca perjuangan saudara-saudara kita di hajar reguler. Ada yang nabung 14 tahun, 15 tahun, 20 tahun. Apa arti 1 2 3 tahun nunggu jika dibandingkan mereka? Enggak ada artinya. Kecuali kita punya mentalitas yang lemah. Kecuali mental kita mental tempe. Mendoan lagi. Leto itu loh anak. Saudara Anda berangkat 20 tahun nunggu biasa senang mereka semangat ini 1 2 3 tahun terpuruk apa terpuruknya enggak ada terpuruk. Makanya haji lun kota itu kan harusnya no hard feeling hadirin gitu loh. Itu bonus daripada antri bonus. Enggak ada resiko seharusnya. Jadi kalau ter aduh k gua pesimis gua ini yang harus diperbaiki bukan drama teknis yang harus diperbaiki adalah mentalitas kita kita belum belum menjadi orang yang pantas berjihad dalam konteks ini. Orang berjihad tuh semangat gitu enggak ada gimana dekat-dekatnya. Kalau belum saya tunggu sampai kapan? sampai berangkat gitah atau Allah takdirkan lain makanya waminhum man yantadir. Jadi mentalitas mujahid itu atau mentalitas kesatria itu mereka nunggu nunggu, nunggu, nunggu menang, nunggu mati. Ini ayat ini nunggu mati bukan nunggu menang. Nunggu mati. Mati syahid. Jadi kalau drama visa ini membuat kita terpukul agak berat tentu benar deh. Dan kita harusnya pindah dimensi enggak usah bicara haji lagi. Anda berat ngadapin kehidupan kalau mentalitas Anda seperti ini. Anda akan babak belur dalam kehidupan rumah tangga Anda. Anda akan babak belur dalam kehidupan keluarga Anda. And Anda akan hancur ketika ngadapin anak-anak. Anda akan berantakan ketika ngadapin bisnis. Oh, visa non kota itu no hard feeling. Kalau kita lihat sistem pada hari ini, Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan haji itu jihad. Jihad itu mau 0,01 persen peluangnya semangat, optimis, enggak ada pikir Allah. Dan enggak kita enggak terpukul ketika misalnya kita dengar teman kita sudah dapat visa atau kesatria itu gimana sih? Prajurit gimana sih? Kan siap dan aja ketika teman yang ditunjuk berangkat dia no hard feeling. Itu penunjukan sama teman saya bukan saya. Kalau enggak ribet gitu enggak drama. Jadi ini yang perlu kita camatkan. Faminhum man qod nahba. Sebagian yang mereka sudah membuktikan dan mereka wafat dengan kejujuran dan memegang tengguh janji mereka. Dan sebagian nunggu kapan giliran saya? Giliran saya dapat gonimah bukan. Giliran saya menang bukan. Kapan giliran saya mati syahid. ini ayat itu. Jadi kalau kita enggak bisa atau kalau kita gagal menghadapi dinamika musim haji tahun ini, ini bukan tentang berangkat enggak berangkat lagi. Ini tentang kita akan gagal dalam hidup. Seringat se apa? Serapuh itu mentalitas kita. Maka jangan sampai menjadi orang-orang demikian. Haji itu jihad. Mentalitas tuh harus seperti itu. Wadalu tabdila enggak ada dirubah. Niatan saya dari awal tetap itu. Lalu minta pertolong kepada Allah lalu standby aja dan lakukan apa yang kita lakukan selama hal itu halal. Itu yang harus kita bangun. Enggak ada cerita pesimis lah. Malu kita sama Allah tabaraka wa taala. Wal hayau minal iman. Malu itu bagian dari keimanan. Harus malu kalau kalau kita tuh lemas pesim sudah doa malas atau deg-deg apa itu mendingan enggak usah aja ya sekalian. Ayo itu semangat. Dan itu yang terjadi dan itu itu yang saya lihat dari pengalaman selama ini dari jemah-jemah aja yang benar-benar tulus, benar-benar ikhlas. Nasabu kadalik w hasibuh. Saya hanya bisa melihat zahirnya. Allah yang tahu hati-hati mereka. Tapi mereka punya satu kesamaan. Enggak ada yang bicara negatif, enggak ada yang bicara lemas, enggak ada yang bicara pesimis. Semap optimis. semua optimis, semua positif, semua senang gitu loh. Karena sekali lagi kalau mau berikhtiar hari-hari ini, jemaah. Dan Saad bin Abi Waqqas dalam kondisinya menjelaskan kepada kita bahwa berikhtiar itu bukan sebatas hal teknis. Kalau hal teknis umat kalah telak berhadapan dengan Persia di Kodisiah. Justru kenapa saya bokan ini? Saat bin Mas melihat sisi makna bukan hanya sisi fisik, bukan hanya sebatas sisi teknis. Bagaimana Saad bin Abi Waqqas melihat, membandingkan pasukannya yang menjaga keimanan, ketakwaan, dan ketawaduan walaupun secara teknis enggak enggak diuntungkan? Lalu musuhnya yang secara teknis sangat diunggulkan tapi sombong, arogan, lalu ee ujub dan ee menggantungkan kepada manusia. Kan kata Raja Persia, "Saya akan utus rustum yang akan mengubur kalian. Enggak ada bawa-bawa Tuhan sama sekali." Lihat kan saat kan berpikir gua punya pasukan enggak banyak tapi semua menggantungkan dirinya kepada Allah. Musuh gua kerustum insyaallah menang gitu. Itu orang beriman. Cara mikirnya tuh gitu. Menang. Kita harus berpikir demikian. Ketika teknis tidak menguntungkan, kerjakan PR-PR kita. PR ketawakalan, PR optimisme. Kan ana abdi bihi. Aku tergantung prasangka hambaku terhadap terhadap Aku tergantung prasangka hambaku terhadap diriku. In khairon fakhairun wain syaron fasyar. Kalau baik maka baik. Kalau buruk maka buruk. Jangan sampai jangan sampai kita atau ada orang insyaallah bukan kita, tapi ada orang gagal gara-gara seuzonnya sendiri. Padahal peluang masih ada. Kami suuzon sudah lemas, sudah pesimis, sudah kayaknya enggak tahu ni berat tahun depan aja gagal beneran. Kata Allah, "Ana inadani abdi aku tergantung prasangka hambaku terhadap diriku. Jadi jangan pernah ada pesimisme. Ngaji itu bukan untuk orang-orang pesimis. Dan jihad bukan bidang untuk orang-orang yang hanya mengandalkan kemampuan teknis. Enggak. Ada banyak hal di luar teknis yang berbicara apalagi haji. Jadi kita harus semangat, kita harus selalu berpikir positif dan saling menguatkan di antara kita gitu. Dan lagi-lagi haji itu miniatur kehidupan. Apapun yang Allah takdirkan kalau kita benar-benar optimis, semangat, punya jiwa pantang menyerah, akan berdampak positif setelah haji dan pasca haji. Dan kita akan dapat haji yang mabrur. Walaupun orang itu enggak berangkat, tapi sekali lagi masih terlalu dini untuk mengata demikian dan peluang masih terbuka. Tapi kita butuh totalitas, kita butuh bermunajat sama Allah Subhanahu wa taala. Jadi hadirin Allah muliakan, jangan pernah lupa bahwa ini adalah jihad dan jihad selalu dikuasai oleh orang-orang yang optimis, orang-orang yang semangat, orang-orang punya energi, orang-orang yang enggak berpikir buntu dan berpikir lemah. Itu yang perlu kita camkan. Kita buka sesi tanya jawab. Sallallahu wasallam ala nabina Muhammad. ada pertanyaan H pertanyaan. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Jazakallah khairan ustaz atas ilmunya. Semoga Ustaz keluarga diberikan selalu ee rahmat, penjagaan, dan perlindungan dari Allah Subhanahu wa taala. Ee dan juga beserta dengan ee tim Muhajir Project dan juga ee jemaah kita yang ada di sini. Ee semoga kita dapat berangkat ee haji tahun ini. Amin. Amin. Ee Ustaz ee apa? Mm ilmunya ee ngena banget sihat untuk untuk saya ini. Ee cuman kita ini kan berada di lingkungan yang memang ee ilmunya kita dapatkan sama gitu ya, Ustaz ya. Misalkan kita optimis semangat jihad dan lain-lain gitu. Nah, cuman pada saat misal kita ee keluar dari lingkungan ini untuk menjalankan aktivitas kita sehari-hari gitu. Nah, bertemu lagi dengan mungkin ada lingkungan yang ee di lingkungan kantor, keluarga gitu atau ee lingkungan sekitar gitu ya yang memang ee ilmu yang kita dapatkan sekarang ini mereka belum dapat gitu. Jadi, sehingga ee bisa jadi yang pertama mempengaruhi kita dari sikap kesatria. Jadi itu tadi ee mendoan lagi gitu, Ustaz. Nah, ee atau kita saking satrianya di luar itu kita dianggap aneh gitu. Ih, ngapain sih tiap tahun ee harus kayak gini-gini gitu. Antara dua itu sih yang aku yang yang saya ee bayangkan gitu, Ustaz, setelah ee selesai dari ee kajian ini menghadapi ee dunia luar sana gitu. Nah, mohon nasihatnya sih, Ustaz. Terima kasih heran. Yang pertama enggak usah pulang jemaah. Tapi kan enggak mungkin ya, hidup itu harus berjalan gini loh. Ee formula formula para juara itu pasti berbeda dengan mainstream itu pasti. Karena kalau formulanya sama, semuanya jadi juara. Kenapa juara selalu minoritas? Selalu minoritas karena pola yang mereka lakukan berbeda dengan mayoritas orang. Mayoritas orang. Karena kalau formulanya sama, hasilnya sama. Garbage in, garbage out. Karena pencapaian tergantung apa yang masuk. Tapi kan aku nanti dibilang aneh atau aku ini segala macam resiko. Lagi-lagi itu yang membuat kenapa juara itu minoritas. Makanya kita tahu bagaimana dalam kita enggak usah bicara orang beriman dulu lah. Kita tahu kita baca biografi para sacientis, para penemu dan ilmuwan kan mayoritas mereka dikata orang gila ketika itu. Orang gila, orang pengkhayal dan banyak dana mereka penemuan mereka merubah dunia itu di awal-awal enggak dihargai sama sekali. dianggap lelucon, dianggap nyeleneh, dianggap aneh. Itu biasa dalam hidup itu. Kita belum bicara sejarah orang-orang beriman. Lihat bagaimana kalau kita masuk ke dalam sejarah, lihat bagaimana Nabi alaihi salalatu wasalam. Lihat bagaimana para sahabat radhiallahu taala anhum semua tuh demikian. Makanya di dunia ilmu semenjak awal ulama kita atau kiai kita itu memberikan memberikan prinsip kepada kita. Mereka katakan wahjur awaidahum. Kalian harus tampil beda dengan mainstream secara positif ya gitu. Jadi maksudnya kan dunia ilmu itu dunianya para juara. Makanya ee ketika ulama mendidik umat atau mendidik murid-muridnya itu bukan hanya sisi knowledge-nya aja yang ditanamkan atau diisi dan seterusnya, tapi juga dari sisi mentalitas. Yang salah satu mentalitas yang dimasukkan ke dalam hati murid-murid dari kecil, dari fase awal itu ulama metodologinya beda dengan mayoritas orang tua pada hari ini. Metode ulama tuh langsung menanamkan keman itu beda. Anda itu beda. Sedangkan mayoritas orang tua pada hari ini itu berusaha membuat anaknya itu diterima oleh masyarakat atau komunitas atau teman-temannya dan mengatakan, "Kamu itu sama kok dengan teman-temanmu." Kan gitu. Jadi memang dari awal sebagian orang tua mencetak anaknya itu jadi mainstream dan ee artinya memang anaknya didesain untuk enggak jadi apa-apa. hanya untuk jadi ee orang atau pribadi yang standar masyarakat dan standar masyarakat itu enggak akan pernah berhasil. Kata Syaikhul Islam, iyaka watansif. Anda tuh jangan setengah-setengah. Anda jangan setengah-setengah. Setengah-setengah itu enggak pernah berhasil. Nah, setengah-setengah tuh biasanya ada di tengah-tengah, ada di middle. Jadi, hidup secara umum hidupnya flat dan seterusnya. Makanya kaidah peradaban mengatakan bahwa middle class itu enggak pernah menentukan arah peradaban. Enggak pernah. Middle class itu enggak pernah menentukan arah peradaban. Bahkan yang menentukan arah peradaban itu high class atau grass root sekalian. Itu itu catatan sejarah. Nah, kita itu mayoritas didesain itu untuk jadi middle class hari sadar atau enggak sadar. Ya, itu tadi. Makanya kan ee dari dulu kita dididik jadi apa? Jadi pegawai, terus jadi apalagi sih? Jadi PNS. Ee kalau ini dapat pensiun terus ya gitu-gitu aja kerja kerja kantoran gitu loh. Berapa persen orang tua kita, didik kita kamu harus jadi pengusaha anak gitu. He sadar enggak sih kita tuh dididik begitu? Dididik agar jadi middle class, agar jadi udah sama seperti mayoritas orang dan itu enggak enggak enggak menghasilkan apapun gitu. Makanya momok besar kita adalah ketika berbeda dan mentalillness. Salah satu mental terbesar orang kita adalah cari validasi orang. Karena memang itu hasil dari pendidikan karakter selama ini. Cuma kalau kita di di dicetak sebagai juara, enggak peduli para juara tuh dari kecil enggak peduli orang. Enggak peduli orang mau ngapain gua enggak peduli. Dia punya dunia sendiri dan dia punya cita-cita yang akan dia raih walaupun mayoritas enggak percaya suara walaupun suara enggak percaya memang beda. Jadi maksud saya ini tuh bukan bukan masalah bukan masalah personal si A si B si C. Ini masalah sosial. Kita tuh enggak dididik untuk jadi juara. Kita dididik untuk jadi tengah-tengah. Itu sudah gitu aja. Makanya sekali lagi penyakit terbesar salah satu penyakit terbesar kita, penyakit sosial atau penyakit mental cari validasi. Cari validasi dan ee tidak mau ee terlihat beda sendiri itu enggak mau kayak orang kita tuh demikian. Makanya sebagian kita dulu waktu salah seragam enggak mau masuk gitu loh. Oh, malu kita marah membantu dimarahinlah apa orang tua kita mah sebal segala macam. Salahsang kenapa? Beda sendiri. Jadi gimana mau jadi orang berhasil kalau demikian? Enggak bisa ya. Konsekuasinya berat. Makanya Nabi sallallahu alaihi wasallam itu mencontohkan beliau kan tampil beda. Dan itu salah satu ee salah satu perbedaan mencolok antara beliau dengan paman beliau Abu Thalib. Sama-sama baik, sama sama-sama habis-habisan. Bedanya di sini, sang paman Abu Thalib itu masalah inti beliau adalah tidak mau dicap berbeda dengan nenek moyang itu aja. Enggak mau. Makanya Abu Jahal sampai akhir hayat Abu Thalib kan kuncanya itu doang. Kamu kamu mau menyelisihi agama nenek moyang dan Abdul Muthalib gitu. Artinya kamu mau meninggal karena dicap sebagai beda sendiri gitu loh. Berani kamu? Akhirnya itu yang dipilih. Adapun keponakan enggak peduli mau dicap apapun sallallahu alaihi wasallam. Enggak peduli Nabi mau dibilang pengkhianat kayak mau dibilang ini kayak mau dibilang itu kah? Enggak peduli. Enggak peduli. Itu yang membedakan. Mau dijauhi, mau diboikot. Makanya kan kalimat yang beliau sampaikan di Thaif diriwayatkan kan itu selama engkau enggak murka saya enggak peduli. Itu itu mentalitas juara. Selama Engkau enggak murka ya Allah, saya enggak peduli apapun. Mau diusir kek, mau dibenci k, mau dikata-katain k, mau dihina kek, enggak peduli. Selama kau enggak murka. Sedangkan kita enggak didik demikian. kita dididik tuh apa kata orang harus sama dan seterusnya itu ya hasilnya begitu hasilnya demikian makanya per dan kita enggak dididik untuk menyalahkan pihak lain kita dididik untuk memperbaiki diri dan mengapresiasi pihak lain. Jadi saya enggak ingin hasilnya juga kita salahkan A, B, C, D, tapi poinnya adalah ketika kita sudah belajar, kita mau berubah apa enggak? Ketika Allah kasih taufik kita bertemu di musim haji tahun ini, kita mau jadikan ini momentum perubahan apa enggak? Apa ini hanya tentang visa dan tiket? Kan itu poin. Dan kalau ini hanya tentang visa, saya rasa banyak jemaah tahu ada pihak-pihak yang lebih bisa menjanjikan visa. Kenapa enggak ke sana aja? Jadi kita dari awal sepakat ini bukan tentang itu. Itu penting, jelas. Tapi bukan tentang itu. Kita ingin berubah. Kita ingin mentransformasi diri kita. Kita ingin jadi orang saleh, kita ingin dekat sama Rabbul Alamin. Itu poin. Kalau itu maka harus ada sikap. Dan untuk konteks ini, untuk konteks ini seringki yang berlaku adalah teori apa? Zero some game. Pernah dengar zero some game. Itu salah satunya. Karena Allah tuh maha pencemburu. Kalau kita ingin dekat sama Allah, konsekuensinya adalah seringki ada dinamika di antara manusia dengan kita. Kenapa? Karena Allah maha pencur itu zero some game. Nah, kenapa orang barat terima zero some game? Bahkan mereka life is zero some game. Kita enggak terlalu kita enggak enggak enggak terlalu apa enggak enggak terlalu kita enggak terima teori itu mentah-mentah. Tapi dalam konteks ini teori itu berlaku dalam beberapa konteks. Yang enggak ngerti surah saman googling aja habis iniah gitu. kehabisan waktu saya jelasin zero ya sedikit aja lah. Zero S game itu kalau Anda mau menang maka Anda harus harus ada pihak yang kalah. Jadi kalau Anda pemenang maka harus ada pihak yang kalah. Jadi win lose gitu loh. Itu zero subgame. Terus kalau kalau misalnya Anda misalnya ee Anda ingin Anda punya air putih lalu Anda ingin ee ingin merubah Anda ingin minum teh, maka Anda harus hilangkan atau harus mengurangi volume dari air putih tersebut karena masuknya teh ke sana. Jadi penambahan dari satu sisi itu konsekuensinya mengurangi sisi yang lain gitu loh. Itu zero subgame itu enggak enggak benar secara mutlak tapi ada beberapa hal demikian. Nah, tapi untuk kasus ini itu arahnya zero subgame dan itu terbukti Nabi sallallahu alaihi wasallam dibenci oleh satu kota. Hanya untuk apa? Hanya untuk cari rida Allah tabaraka wa taala. Jadi yang jadi masalah bukan dibencinya atau bukan di cemoohnya. Yang jadi masalah adalah mentalitas kita dan bagaimana kita memandang kehidupan. Makanya kita tahu bersama-sama bahwa enggak semua orang yang artinya enggak semua orang yang enggak semua orang yang ee sukses dan di level atas itu berhasil berhasil secara jiwa juga kan sebagaimana kan stres gila lalu ee bunuh diri dan bla bla bla bla bla gitu loh kan demi karena kenapa kan lagi-lagi di level atas anda harus beda dengan yang lain dan Anda akan diserang sama yang lain. Dan enggak semua orang sanggup ngadapin itu. Dan terbukti Van enggak sanggup gitu loh. Alan Turing enggak sanggup, Fredign Nishaya enggak sanggup. Nama-nama besar emang berat itu. Makanya kalau mau berhasil bangun pondasi yang kuat. Dan tauhid itu sudah enggak ada nego, Jemaah. Tapi bukan hanya tauhid yang teori, tapi bagaimana-benar meresapi bahwa itu tadi bahwa dunia ini kerajaan Allah tabaraka wa taala. Kalau Allah merida kita, maka kita akan bahagia. Kalau Allah benci sama kita, kita akan hancur. Itu poin susah-susah. Makanya berhasil sedikit. Dan cukuplah kisah Abu Thalib menunjukkan bahwa ini itu peliknya minta ampun. Abu Thalib itu diboikot 3 tahun berhasil tapi dicap menyelisihi bapaknya dan menyelisihi nenek moyangnya. Enggak bisa dia. Jadi bagi Abu Thab mendingan gua diboikot 3 tahun. Lebih baik makan daun 3 tahun daripada dicap menyelisihi orang tua, menyelisihi keturunan, eh menyelisihi ee nenek moyang. Itu menunjukkan sulit, pelik, kayak ini enggak enggak gampang. Susah karena manusia itu makhluk sosial. Ada ada DNA itu di kita ingin diterima, ingin di apa? Disayang oleh pihak lain, ingin dipuji. Itu kan tabiat manusia. Nah, bisa enggak tauhid itu di atas segalanya? Itu pertanyaan besar. Kalau enggak ya. Jadi ini isu besar dari dulu memang. Nah, semakin diperparah karena mayoritas kita memang dididik dari awal demikian. J pondasinya tuh validasi dan didukung gitu loh kan. Kok aku gini kamu tuh enggak kamu tuh enggak berbeda dengan yang lain nak. N kamu mulai sekarang kalau ketemu anak ketemu anak kita, Nak kamu beda gitu kok. Aku beda apa namanya? Kok aku enggak sama teman-temanku. Kan kadang-kadang yang yang diajarkan oleh antum kepada anak-anak kan nanti dikorventir kok temanku beda sih Mbah suka bilang gitu enggak sih kalau masalah-masalah di sekolah gitu loh. Nah misalnya kita jelaskan yang ini haram ini enggak boleh atau dia minta izin enggak boleh tapi sama temanku semua teman kelasku boleh loh. Mah gitu loh. Jawaban antum apa? Kan bingung kita nih gimana simpel aja. Emang kamu beda gitu dong. Emang kamu beda kamu enggak sama dengan yang lain. You are spesial. You are outlier. Kan harusnya gitu. Ini orang tuanya udah minder repot gitu loh ya. Kalau orang tua minder ya generasi keduanya minder plus gitu loh. Minder kuadrat. Harusnya orang tuanya PD itu misal kenapa aku enggak boleh pergi ke sini. Nah misal itu maksiat. Semua temanku boleh karena kamu beda gitu. Parameter kamu bukan teman kelas kamu. Parameter kamu para nabi gitu dong. Gitu. J orang tua tuh punya roh gitu loh. Iya terus tanya Pak Ustaz gimana Pak Ustaz? Aku harus jawab apa? Gimana sih ini minderan itu loh susah kita beda memang enggak sama. Kita tuh dididik jadi juara oleh Allah dan rasulnya sallallahu alaihi wasallam. bukan jadi medioker emang beda dari awal enggak sama itu. Mentalitas itu harus kita masukkan ke dalam hati anak-anak kita biar mereka tuh kalau hidup tuh dengan prinsip gitu loh, bukan pragmatis. Enggak kebawa angin ke kan, angin kanan dia ke kanan, yang kiri dia ke kiri. Enggak. Dan ketika bilang, "Emang saya beda. Papa, Mama saya itu bilang itu saya tuh beda." Dan Allah mencintai kan. Kata Nabi sallam lihat bagaimana Nabi sallallahu alam mengidik para sahabat. Innal Islam bada goriban wasudu goriban kama bada fatuba guroba. Islam datang dalam kondisi asing dan akan kembali asing. Dan bersyukurlah, beruntunglah orang-orang yang dianggap aneh dan asing oleh masyarakat. Itu poin dulu pertama-tama kali ngaji kami itu ditanamkan hadis itu sama salah satu ustaz sepuh kami gitu. Jadi justru dulu agak kebablasan kita gitu. Jadi ketika kita beda, oh berarti kita pasti surga nih. Enggak harusnya enggak begitu juga gitu loh. Tapi ya bagi saya mungkin agak lebih baik daripada minder sana, minder sini segala macam. Karena kalau orang sudah minder susah untuk di dinaikkan kepercayaan diri tersebut. Tapi overcfidence di banyak di beberapa kasnya lebih lebih mudah sedikit untuk diturunkan gitu. Jadi itu yang perlu kita ee camkan. Jadi jemaah sekalian Allah muliakan harus semangatlah gitu loh. Dan itu tadi solusinya bukan apa bukan nginp dan iktikaf di sini dan enggak mau ketemu orang. Enggak. Justru inilah cara kita meng apa melakukan assessment apakah kita memahami ilmu yang kita pelajari dan bagaimana kita menerapkan ilmu tersebut dan daya tahan kita dalam mengamalkan ilmu itu. Itu poinnya ya begitu. Dan di situ itulah apa metode belajarnya para sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam. Belajar dipraktikkan. Belajar dipraktikkan dengan segala konsekuensi lalu evaluasi. dan nanti kita akan dapatkan hasilnya. Dan sekali lagi tampil beda bukan arogan, tampil beda bukan sombong. arogan bukan merasa benar sendiri tapi ya ya itu tadi kita harus ngabalin ilmu kita lalu kalau bisa kita dakwahin yang lain dan sabar sabar gitu loh dan kita harus baca kisah-kisah biografi para anbiya para nabi para rasul dan para orang-orang saleh bahkan dalam konteks ini juga orang-orang ahli dunia yang itu juga polanya nya sama mereka punya dunia sendiri. Tapi bedanya kalau dunia nanti arogan, sombong, merasa pintar dan segala macam. Tapi kalau para nabi, orang-orang saleh, mereka keep humble, mereka tawadu, mereka ngajak orang dan mereka terbuka, mereka enggak merasa paling pintar sendiri. Dan itulah yang diajarkan oleh agama kita. Ada lagi atau kita cukupkan? Tap saya rasa cukup sampai di sini. Sudah jam 12.00. Sekali lagi optimis ee jemaah sekalian dan ee waktu tinggal 1 bulan sepekan lagi ya. sebulan sepekan dan waktu berjalan dengan cepat dan saling support satu dengan yang lain dan ee saling mendembar optimisme dan kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Yjibunil fa'lu." Aku tuh kagum dengan optimisme. Jadi buatlah Nabi sallallahu alaihi wasallam kagum di hari-hari ini. Dan ee sekali lagi visa ada dan peluang kita berangkat semua. ee masih sangat terbuka. Jadi semangat untuk ee bantu apa yang bisa dibantu dan yang paling penting doa, paling penting munajat sama Allah dan perbaiki ibadah kita. Watazwadu fainir takwa. Dan berbekallah sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. Karena dengan antum semua bertakwa, artinya semakin banyak antum bertakwa dan berusaha bertakwa, Allah akan katakan dalam surat atalaq ayat 2 dan 3, yaj'alahu makhraja. Allah akan kasih jalan keluarzuqu min haitsu la yahtasib. Dan Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak dia duga-duga. itu poib. Jadi jemaah sekalian, makanya kalau dengan dengan upaya setiap pihak untuk bertakwa itu sangat ngebantu sangat ngebantu ee pihak lain atau tim lain yang lagi berjuang secara teknis dalam masalah visa. Semua demikian. Ini yang bisa disampaikan. Jazaklaha khairan subhanakham asadua ilahailla anta astagfirubaiik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.

Need a transcript for another video?

Get free YouTube transcripts with timestamps, translation, and download options.

Transcript content is sourced from YouTube's auto-generated captions or AI transcription. All video content belongs to the original creators. Terms of Service · DMCA Contact

2026-04-19 - 05. MANASIK HAJI 1447H - YouTube Transcript ...