Menolak Uang rakyat meski hati anaknya hancur #kisahislami #kisahulama

PETUAH NUSANTARA430 words

Full Transcript

Inilah kisah seorang [musik] pemimpin yang menolak uang negara meski hatinya hancur melihat anaknya menangis. [musik] Peristiwa ini terjadi pada abad ke-2 Hijriah di wilayah Damaskus Suriah pernah hidup seorang pemimpin bernama [musik] Umar bin Abdul Aziz. Beliau adalah gubernur Madinah pada saat itu. Menjelang hari raya Idul Fitri, [musik] suasana di Madinah sangat meriah. Anak-anak baik dari kalangan pejabat maupun rakyat biasa sibuk menyiapkan pakaian terbaik mereka. Umar bin Abdul Aziz masuk ke dalam rumahnya dan mendapati [musik] putri kecilnya sedang menangis di pojok ruangan. Umar mendekat dan bertanya, "Apa yang membuatmu menangis wahai [musik] putriku?" Putrinya menjawab, "Wahai ayah, besok adalah hari raya Idul Fitri. [musik] Semua anak di luar sana memakai baju baru. Sedangkan aku, putri dari pemimpin kaum mukminin, hanya memiliki baju yang sudah usang dan [musik] penuh tambalan ini. Aku malu jika besok harus keluar rumah menemui teman-temanku." Mendengar itu, hati [musik] sang ayah teriris. Tentu ia ingin membelikan baju baru. Meskipun sebagai khalifah ia tidak memiliki uang simpanan karena gaji sebagai khalifah [musik] sangat kecil. Dan beliau menolak mengambil fasilitas mewah dari Baitul Maal atau kas negara. Sang ayah kemudian pergi menemui bendahara [musik] Baitul Maal untuk bertanya, "Bolehkah aku mengambil gajiku untuk bulan depan sekarang?" Bendahara itu mengetahui kemuliaan hati Umar. Namun, ia menjawab dengan [musik] sebuah pertanyaan yang menyentak. "Wahai Amirul Mukminin, aku tidak keberatan memberikannya. Namun, apakah engkau memiliki jaminan bahwa engkau masih hidup sampai bulan depan sehingga engkau bisa membayar hutang gaji ini [musik] pada kas rakyat?" Umar terdiam. Air matanya mengalir. Ia menyadari bahwa ia tidak memiliki jaminan atas umurnya sendiri. Bahkan untuk 1 jam ke depan ia tidak berani mengambil uang rakyat hanya [musik] untuk membelikan baju baru bagi anaknya. Umar kembali ke rumah dengan tangan hampa dan berkata kepada putrinya, "Wahai putriku, pilihlah salah satu dari dua hal ini. Engkau memakai baju [musik] baru besok, namun ayahmu harus masuk ke dalam api neraka karena mengambil hak rakyat. Atau engkau tetap memakai baju usang ini dan kita masuk ke dalam surga bersama-sama." [musik] Melihat air mata ayahnya dan mendengar keteguhan prinsipnya, jiwa salehah [musik] putri kecil itu bangkit. Ia segera mengusap air mata di pipi ayahnya dengan tangan kecilnya dan berkata, "Tidak apa-apa, Ayah. Aku akan bersabar. Demi Allah, [musik] rida Allah dan ridamu jauh lebih aku cintai daripada baju baru di dunia ini. Pada hari raya itu, putrinya [musik] memakai baju yang paling usang di antara semua anak-anak. Namun, sejarah mencatat bahwa ia justru terlihat [musik] sebagai anak yang paling berwibawa dan cantik karena cahaya kesalehan dan keridaan yang terpancar dari wajahnya. Wallahuam bisyawab. Allahu Akbar. Yeah.

Need a transcript for another video?

Get free YouTube transcripts with timestamps, translation, and download options.

Transcript content is sourced from YouTube's auto-generated captions or AI transcription. All video content belongs to the original creators. Terms of Service · DMCA Contact

Menolak Uang rakyat meski hati anaknya hancur #kisahislam...