Inilah kisah seorang [musik] pemimpin yang menolak uang negara meski hatinya hancur melihat anaknya menangis. [musik] Peristiwa ini terjadi pada abad ke-2 Hijriah di wilayah Damaskus Suriah pernah hidup seorang pemimpin bernama [musik] Umar bin Abdul Aziz. Beliau adalah gubernur Madinah pada saat itu. Menjelang hari raya Idul Fitri, [musik] suasana di Madinah sangat meriah. Anak-anak baik dari kalangan pejabat maupun rakyat biasa sibuk menyiapkan pakaian terbaik mereka. Umar bin Abdul Aziz masuk ke dalam rumahnya dan mendapati [musik] putri kecilnya sedang menangis di pojok ruangan. Umar mendekat dan bertanya, "Apa yang membuatmu menangis wahai [musik] putriku?" Putrinya menjawab, "Wahai ayah, besok adalah hari raya Idul Fitri. [musik] Semua anak di luar sana memakai baju baru. Sedangkan aku, putri dari pemimpin kaum mukminin, hanya memiliki baju yang sudah usang dan [musik] penuh tambalan ini. Aku malu jika besok harus keluar rumah menemui teman-temanku." Mendengar itu, hati [musik] sang ayah teriris. Tentu ia ingin membelikan baju baru. Meskipun sebagai khalifah ia tidak memiliki uang simpanan karena gaji sebagai khalifah [musik] sangat kecil. Dan beliau menolak mengambil fasilitas mewah dari Baitul Maal atau kas negara. Sang ayah kemudian pergi menemui bendahara [musik] Baitul Maal untuk bertanya, "Bolehkah aku mengambil gajiku untuk bulan depan sekarang?" Bendahara itu mengetahui kemuliaan hati Umar. Namun, ia menjawab dengan [musik] sebuah pertanyaan yang menyentak. "Wahai Amirul Mukminin, aku tidak keberatan memberikannya. Namun, apakah engkau memiliki jaminan bahwa engkau masih hidup sampai bulan depan sehingga engkau bisa membayar hutang gaji ini [musik] pada kas rakyat?" Umar terdiam. Air matanya mengalir. Ia menyadari bahwa ia tidak memiliki jaminan atas umurnya sendiri. Bahkan untuk 1 jam ke depan ia tidak berani mengambil uang rakyat hanya [musik] untuk membelikan baju baru bagi anaknya. Umar kembali ke rumah dengan tangan hampa dan berkata kepada putrinya, "Wahai putriku, pilihlah salah satu dari dua hal ini. Engkau memakai baju [musik] baru besok, namun ayahmu harus masuk ke dalam api neraka karena mengambil hak rakyat. Atau engkau tetap memakai baju usang ini dan kita masuk ke dalam surga bersama-sama." [musik] Melihat air mata ayahnya dan mendengar keteguhan prinsipnya, jiwa salehah [musik] putri kecil itu bangkit. Ia segera mengusap air mata di pipi ayahnya dengan tangan kecilnya dan berkata, "Tidak apa-apa, Ayah. Aku akan bersabar. Demi Allah, [musik] rida Allah dan ridamu jauh lebih aku cintai daripada baju baru di dunia ini. Pada hari raya itu, putrinya [musik] memakai baju yang paling usang di antara semua anak-anak. Namun, sejarah mencatat bahwa ia justru terlihat [musik] sebagai anak yang paling berwibawa dan cantik karena cahaya kesalehan dan keridaan yang terpancar dari wajahnya. Wallahuam bisyawab. Allahu Akbar. Yeah.
Get free YouTube transcripts with timestamps, translation, and download options.
Transcript content is sourced from YouTube's auto-generated captions or AI transcription. All video content belongs to the original creators. Terms of Service · DMCA Contact