Inilah kisah keteguhan seorang pemimpin yang menjaga harta umat dari korupsi. Peristiwa ini terjadi pada abad pertama Hijriah pada masa dinasti Umayyah di wilayah Damaskus. Suatu malam, Umar bin Abdul Aziz, pejabat tertinggi pada waktu itu, sedang duduk sendiri di ruang kerjanya. Di hadapannya, tumpukan dokumen negara menanti untuk diperiksa. Cahaya lampu minyak menerangi wajahnya yang lelah, namun penuh tanggung jawab. Lampu itu bukan miliknya. Minyaknya, sumbunya, bahkan nyalanya. semuanya berasal dari Baitul Ma khas kaum muslimin. Tiba-tiba langkah kecil terdengar putranya masuk ke ruangan. "Wahai ayah, bolehkah aku berbicara?" Ia menatap anaknya sejenak lalu bertanya dengan suara tenang namun tegas. "Anakku, apakah yang ingin kau sampaikan ini urusan kaum muslimin atau urusan pribadimu dengan ayahmu?" Putranya terdiam sejenak lalu menjawab, "Jujur, ini urusan pribadi kita." Tanpa berkata apapun, Umar bin Abdul Aziz berdiri. Ia memegang lampu minyak lalu meniupnya hingga padam. Ruangan seketika gelap. Kemudian beliau menyalakan lilin kecil yang dibeli dari uang pribadinya sendiri. Dalam cahaya redup itu beliau berkata lembut, "Sekarang bicaralah. Lampu yang tadi adalah milik rakyat. Aku tidak ingin membicarakan urusan pribadiku dengan cahaya yang dibiayai dari keringat kaum muslimin. Aku takut kelak di hadapan Allah dimintai pertanggungjawaban bahkan untuk satu tetes minyak yang digunakan bukan pada tempatnya." Wallahuam bisyawab. Allahu Akbar. Yeah.
Get free YouTube transcripts with timestamps, translation, and download options.
Transcript content is sourced from YouTube's auto-generated captions or AI transcription. All video content belongs to the original creators. Terms of Service · DMCA Contact